Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Salah Satu implementasi Rahmatan lil alamin kah?

Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Salah Satu implementasi Rahmatan lil alamin kah?

Sebagai bahan diskusi pada forum Nahdlatul Fikr, Jumat 10 April 2015
Oleh : Hasan Bisri, Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’: 107)

Ayat diatas menjelaskan bahwasannya Nabi Muhammad SAW diutus untuk menjadi rahmat seluruh alam. Benar adanya bahwa diutusnya rasul kemuka bumi ini telah memberikan dampak yang sangat luar biasa besar terhadap peradaban manusia di dunia ini. Michael H. Hart mengatakan dalam bukunya berjudul “100 tokoh paling berpengaruh didunia” menulis nama Rasulullah Muhammad SAW menduduki posisi pertama. Nabi SAW telah mengubah peradaban jahiliah arab menjadi peradaban islam yang penuh rahmat higga menyebar luas ke penjuru dunia termasuk ke bumi Indonesia ini.
Islam rahmatan lil alamin adalah islam yang selalu memberikan kasih sayang kepada alam-alam. Kata “Alamin” ini bukan berarti sempit hanya manusia saja, melainkan semua makhluk yang diciptakan Allah. Gus Mus dalam Gusmus.net mengatakan bahwa Islam adalah ‘rahmat bagi sekalian alam’ (rahmatan lil ‘alamin), mengedepankan pendekatan kasih sayang dalam setiap persoalan yang dihadapinya, dan mengkritik keras arogansi umat maupun ulama atas nama agama. Untuk lebih dalamnya definisi itu, lebih baik mari kita tanyakan saja kepada kiai supaya tidak salah penafsiran.
Alam sangatlah luas. Bentuk rahmat dapat berupa berbagai cara. Dalam bidang pertanian, spesifiknya dalam metode pengendalian hama dan penyakit tanaman, apakah konsep rahmatan lil alamin juga ada? Mari diskusikan bersama.

Pertanian
Pertanian merupakan hal penting dalam setiap sisi kehidupan manusia. Hampir semua kebutuhan manusia dipenuhi dari pertanian. Pertanian dalam arti sempit merupakan usaha manusia untuk membudidayakan suatu tanaman untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Secanggih apapun teknologi, semaju apapun suatu bangsa, selama manusia masih mengonsumsi nasi, gandum, jagung, sagu, dan sumber nutrisi lainnya, pertanian tetap akan menjadi suatu hal tidak bisa tergantikan.
Faktor hama dan penyakit yang menjadi pembatas dalam proses produksi komoditas pertanian merupakan hal yang sudah sangat biasa kita dengar. Sering kali kita mendengar di berbagai tempat terjadi serangan hama dan penyakit sehingga petani merugi hingga milyaran rupiyah. Bahkan kalau kita masih ingat salah satu penyebab krisis yang menentukan di Indonesia adalah faktor pertanian. Pada akhir kepemimpinan presiden Soekarno dan Soeharto Indonesia mengalami krisis pangan. Gara-gara masalah pertanian semua harga makanan pokok melambung tinggi. Ini menambah kompleksitas krisis yang sulit diatasi yang mengakibatkan bergantinya presiden.
Sejarah membuktikan bahwa pertanian memiliki arti sangat penting dalam kehidupan manusia. Pada tahun 1830-1845 terjadi serangan penyakit hawar daun kentang di Eropa yang mengakibatkan penduduk eropa bermigrasi besar-besaran ke Amerika. Akibat penyakit karat kopi pada tahun 1880 telah membuat perubahan kebudayaan orang inggris dari kebiasaan minum kopi menjadi peminum teh.
Di Indonesia, permasalahan hama penyakit pernah membuat kalang kabut pemerintah .Permasalahan hama wereng batang coklat. Sutrisno (1987) mengatakan bahwa wereng coklat telah resisten (kebal) terhadap pestisida karbamat dan organofosfat. Pada sebelum 1994 wereng coklat hanya menyerang pada musim hujan, naumn setelah tahun 1994 wereng ini sudah tidak lagi mengenal musim. Sejak pertama kali identifikasi wereng coklat tahun 1930, serangga ini telah mengalami perubahan genetik tahan (biotipe) terhadap perkembangan varietas-varietas baru tahan hasil penelitian IRRI. Pastinya kita kenal padi IR64, padi ini merupakan hasil penelitian IRRI di Philipina yang merupakan varietas tahan. Ketahanan varietas padi ini sekarang juga sudah dapat ditembus oleh hama yang bernama wereng coklat. Penggunaan pestisida merupakan anggapan upaya pemusnahan semua hama dan penyakit yeng menyusahkan petani tersebut.
Upaya penanggulangan hama penyakit yang pernah dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia memang cukup berhasil, namun disamping memerlukan biaya yang tinggi dampak lainnya adalah munculnya resistensi (kekebalan) hama penyakit, munculnya peledakan hama secara massal, dan terbunuhnya organisme bukan sasaran, serta pencemaran lingkungan (Rachmat, et al., 1999). Upaya pengendalian hama penyakit dengan metode yang canggih ini justru berdampak balik kepada petani. Serangan hama semakin besar di berbagai tempat. Ditambah lagi dampak lingkungan yang diakibatkannya. Ini seperti sebuah balas dendam alam terhadap perilaku keserakahan manusia.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi. Peneliti di dunia akhir- akhir ini mulai berpikir keras (Hard fikr) untuk mengevaluasi hal yang terjadi. Akhirnya ditemukanlah suatu konsep pengendalian terpadu (PHT). Pengendalian tidak lagi hanya menggunakan obat bernama pestisida kimia saja, tetapi menggunakan berbagai pengendalian berbasis ekologi. Bahkan pestisida dijadikan pilihan yang paling akhir dari metode pengendalian hama penyakit.
Niatan untuk tidak berbagi terhadap sesama makhluk menjadikan manusia lebih serakah. Seakan tidak mengizinkan makhluk lain hadir dalam dunianya. Padahal seandainya manusia tahu, sejak dari dulu hewan-hewan seperti serangga, wereng, patogen, virus telah lama tinggal dalam habitatnya. Yang pada akhirnya dikuasai oleh manusia dengan membabat habis hutan tempat tinggal mereka menjadi lahan yang hanya memihak untuk kepentingan manusia. Dijadikannya manusia sebagai kholifah fil ard bisakah menjadi alasan atas semuanya?
Konsep Hama dan penyakit merupakan suatu hal “rasa” manusia. Semua tergantung keinginan manusia. Jika manusia merasa rugi, maka dia hama dan harus disingkirkan. Manakala manusia tidak merasa dirugikan maka tidaklah menjadi problem. Mari berpikir sejenak, ketika ada satu ulat saja yang ada pada tanaman anggrek satu-satunya yang kita punya, yang harganya rastusan juta, apakah kita menyebut ulat tersebut hama? Pastinya ya. Tetapi ketika kita memiliki sebuah sawah satu hektare kemudian terdapat belalang 20 ekor, apakah kita sudah menyebutnya hama? Pasti belum. Semuanya hanya sepihak atas persepsi manusia.


Prinsip dan Konsep PHT
Empat prinsip PHT yaitu: (1) budidaya tanaman sehat, (b) pelestarian musuh alami, (c) pengamatan agroekosistem secara rutin, dan (d) petani menjadi ahli PHT dan manajer di kebunnya.
Konsep PHT diibaratkan seperti manusia. Berobat merupakan bukan solusi untuk hidup sehat. Sama halnya dengan tanaman yang tidak harus diberi obat (pestisida). Pertama kali yang perlu dijaga sebagai manusia adalah kesehatan. Ketika manusia sehat maka tidak mudah terserang penyakit, begitu pula dengan tanaman.
Prinsip kedua adalah pelestarian musuh alami. Setiap makhluk hidup memiliki penghambat berupa musuh alami. Penggunaan pestisida akan mematikan musuh alami serangga. Sehingga pelestarian musuh alami hama menjadi salah satu aspek penting pengelolaan hama penyakit. Musuh alami akan secara sendirinya mengendalikan hama sehingga biaya pembelian pestisida bisa ditekan.
Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi ekologi pertanian secara berkala. Apakah sudah perlu dilakukan pengendalian ataukah belum. Konsep ambang ekonomi menjadi hal penting untuk memutuskan adanya pengendalian.
Petani dalam konsep PHT menjadi ahli pengendalian. Sebagai pelaku usaha tani tentunya petanilah yang seharusnya mengetahui konsidi pertaniannya sendiri. Petani perlu mengelola kondisi tanaman dan hubungan rantai makanan alamiah yang ada dalam ekosistem pertanian.
Meski sempat mencapai swasembada beras pada tahun 1984, dampak kebijakan intensifikasi pertanian oleh pemerintahan pada orde baru misalnya, telah membuat petani buta terhadap kebiasaan dahulu. Sikap rakus manusia terhadap alam untuk mengeksploitasi alam menjadi alasan kenapa manusia berusaha mengeruk, bahkan memaksa alam untuk memenuhi hasrat ketamakan manusia.
Konsep PHT merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit. Penggunaan pestisida memang telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi tanaman, tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan.
Sebagai koreksi pengendalian kimia, anggapan bahwa hama dan penyakit merupakan musuh yang sangat berbahaya bagi petani mulai dirubah oleh para peneliti. Hama dan penyakit pertanian perlu di kelola sehingga adakalanya kita mengendalikan dan adakalanya tidak. Perubahan itu yang awalnya bernama “Controlling”(pengendalian) menjadi “management”(pengelolaan) hama dan penyakit. Hama dan penyakit (Patogen : bakteri, virus, cendawan, dll) perlu dikelola jumlah populasinya sehingga tidak sampai merugikan manusia. Ini berarti petani tidak perlu berusaha mengusir keberadaan makhluk-makhluk tersebut dari tempat hidupnya, namun hanya dikelola saja. Toh sesunggahnya mereka adalah sama seperti kita sebagai makhluk Allah yang pastinya Dia menciptakannya dengan tujuan dan kemanfaatan yang kita belum ketahuai.
Dalam konsep PHT, pendekatan ekologi merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Petani sebagai ahli PHT mengelola pertanian dengan kasih sayang. Kehadiran Hama dan penyakit hanya dikelola jumlahnya dan bukan berarti membunuh dan memusnahkannya. Toh sebenarnya mekanisme pengendalian alami telah berjalan. Kita tentu ingat bahwa segala sesuatu makhluk didunia ini sudah dijatah rizkinya oleh Allah SWT. Semuanya telah berjalan saling berputar secara harmoni. Sebuah padi pasti menjadi makanan belalang, dan sebuah belalang pasti sudah memiliki musuh alaminya. Musuh alami belalang pasti memiliki musuh alami sendiri. Terus memutar seperti itu sebagai implikasi makna rantai makanan. Justru manakala kita membunuh mereka dengan sadis seperti aplikasi pestisida bisa jadi justru membunuh musuh alami belalang. Padahal itu bukan hal yang kita inginkan.

Simpulan
Permasalahn pertanian hampisr selalu terjadi. Salah satu permasalahan pertanian adalah masalah hama dan penyakit. Hama dan penyakit (patogen) merupakan makhluk Allah yang berhak mendapatkan rizki dariNya. Sebagai makhluk yang dimuliakan Allah SWT sudah sepatutnya manusia bertindak bijaksana. Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan langkah pengelolaan hama dengan menggabungkan metodologi pengendalian berbasis ekologis. PHT bisa jadi salah satu implikasi rahmatan lil alamin. Setujukah ? Pengelolaan jumlah hama dan penyakit serta ekosistem didalamnya merupakan bentuk rasa kasih manusia yang mencerminkan sikap tidak rakus, dan semena-mena terhadap alam (rahmat kepada alam). Toh pada akhirnya ketika manusia sudah serakah alam pun akan melawan balik.
Allah berfirman :
Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)
Kita benar-benar harus selalu berperilaku rahmat (kasih sayang) kepada alam sehingga Allah pun akan kembali merahmati kita melalui bentuk hasil panen yang berlimpah. Sehingga kita perlu menjadi insan beriman dan berilmu serta bersyukur supaya dapat mengelola alam dengan kasih sayang barbasiskan ekologi..

Untung, K. 2003. Strategi Implementasi PHT dalam Pengembangan Perkebunan Rakyat Berbasis Agribisnis. Risalah Simposium Nasional Penelitian PHT Perkebunan Rakyat, Pengembangan dan Implementasi PHT Perkebunan Rakyat Berbasis Agribisnis. Bogor, 17-18
September 2002. Bagian Proyek PHT Tanaman Perkebunan 2003. Hlm 1-18.
Rachmat, A., A. Nurawan, dan T. Subarna. 1999. Pengendalian Hama Terpadu Pada Teh Rakyat di Jawa Barat. BPTP Jawa Barat, Bandung. 57p.
Orr, L, M. McDougall, S. Mullen, and D. John. 2008. An Evaluation of the Economic, Environmental and Social Impacts of NSW DPI Investments in IPM Research in Lettuce. New South Wales Department of Primary Industries Research Economists, Research Reports No.40. 39p.
Mauceri, M, J. Alwang, G. Norton, and V. Barera. 2007. Effectiveness of Integrated Pest Management Dissemination Techniques: A Case Study of Potato Farmers in Carchi, Ecuador. Journal of Agricultural and Applied Economics,Volume 39, Number 03, December 2007. p 765-780.
Manohara, D, Suprapto dan I.W. Laba. 2003. Analisis Status Penelitian dan Pengembangan PHT Pada Pertanaman Lada. Risalah Simposium Nasional Penelitian PHT Perkebunan Rakyat, Pengembangan dan Implementasi PHT Perkebunan Rakyat Berbasis Agribisnis, Bogor 17-18 September 2002. Bagian Proyek PHT Tanaman Perkebunan 2003.Hlm 77-94.
Gustian A, Rachman B.2009.Penerapan teknologi pengendalian hama terpadu pada komoditas perkebunan rakyat.Perspektif.8(1) hlm 30-41

muhammad

Related Posts
Leave a reply