Memaknai Ujian Formal Sebagai Proses Kehidupan

Memaknai Ujian Formal Sebagai Proses Kehidupan

Siapa yang tak kenal sama makhluk yang bernama ujian. Hampir semua orang tidak asing lagi dengan kata itu. Tahapan yang selalu ada dalam proses belajar formal, tak terkecuali di kampus. Di Perguruan tinggi kita mengenal ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), ujian skripsi, ujian doktor, dan ujian-ujian lainnya. UTS dan UAS merupakan jenis tes yang tidak asing bagi mahasiswa strata 1.

Setiap orang memberikan penilaian berbeda terhadap ujian. Mulai dari golongan yang menganggap sebagai formalitas belaka, sampai yang memaknai sebagai sebuah proses yang sangat berharga. Persiapan ujian yang dilakukan setiap orang pun berbeda. Ada yang tanpa persiapan, ada yang setengah-setengah, ada juga yang sangat mempersiapan dari jauh-jauh hari.

Bicara mengenai ujian, ada beberapa hal yang selama ini saya amati . Ada orang yang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. “Itu loh si Fulan tidak pernah belajar tapi dapat nilai A, bilangnya tidak bisa tapi ujung-ujungnya dapet A”, atau, “si Dia yang belajar terus tapi kok nilainya gak pernah bagus ya”. atau selalu mngatakan “materinya susah ya saya gak bisa ngerjain”. Anda termasuk golongan mana, haha. Hemat saya, semua kembali kepada diri kita sendiri. Apapun yang terjadi jangan salahkan pihak lain, tapi salahkan dirimu sendiri. Lebih bagus lagi kalau kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena nilai ujian kita sangat sesuai dengan apa yang kita harapkan.Amin.

Mengenai proses belajar. Belajar efektif merupakan momen yang selalu kita tunggu-tunggu. Kualitas dalam belajar menjadi hal penting untuk memahami materi. Bukan masalah waktu lama atau sedikitnya, tapi efektif tidaknya. Sebenarnya yang tidak mudah dalam belajar bukanlah proses belajarnya, melainkan bagaimana kita mengondisikan tubuh kita untuk siap belajar. Sehingga kita perlu mencari tahu bagaimana menyiapkan kondisi yang tepat sesuai dengan kondisi belajar kita.

Hal lain selain belajar dalam menyambut ujian adalah aktivitas ibadah dan doa. Banyak orang mengatakan bahwa ketika kita mengaji alqur’an, kemudian sering sholat, kapan waktu untuk belajarnya. Ok, secara nalar sepertinya benar. Tapi bukan itu sobat. Ketika kita mengaji kemudian sholat sunnah dan ibadah lainnya secara tidak langsung kita telah menghormati sebuah makhluk Allah yang bernama waktu. Jadi Ibadah itu menambah input dalam penambahan hasil ujian. Karena dengan ibadah akan menambah kesiapan spiritual kita dalam menghadapi ujian. Rohmah (2008) mengatakan bahwa perilaku ibadah berkorelasi positif terhadap hasil belajar.

Melihat teman-teman yang bersikap berbeda-beda sebelum dan setelah keluar dari ruang ujian membuat saya sedikit memutar-mutar otak. Kayaknya ini masalah mental. Kesiapan ujian mungkin lebih tepatnya. Ingat, Kesiapan ujian tidak hanya kesiapan dalam segi materi, namun kesiapan dalam hal mental. Banyak orang yang sudah sangat matang mempersiapkan materi ujian tetapi mendapatkan nilai tidak memuaskan. Ini terjadi karena dalam ruangan terjadi apa yang orang-orang bilang blank, otak kosong, gugup, sehingga lupa dan bingung dalam mengerjakan soal. So, mulai lah segala sesuatu dengan basmalah dan berdoa. rasa takut, cemas, paranoid, khawatir, tidak pede, minder, grogi, gugup, salah tingkah dan lainnya harus kita hilangkan (Godam 2011). Sehingga kita perlu berserah diri kepada Allah SWT.
Pernah mendengar omongan orang-orang yang diucapkan selepas keluar dari ruang ujian? “datang, kerjakan, lupakan”. Dalam hati saya sangat menyayangkan. Saya duga bahwa perkataan itu merupakan pelampiasan diri skaligus digunakan untuk menenangkan hati sehingga serasa tidak ada beban seusai ujian. Tapi coba renungkan. Tidak segampang itu melupakan hal. Toh kita juga pasti akan ditanyakan pertanggungjawaban. Paling cepat kita akan bertanggung jawab terhadap nilai yang akan keluar. Yang pasti Allah lebih pasti akan menanyakan hal itu. Lebih baiknya lagi kalau kita merubah itu menjadi “ persiapkan, datang, kerjakan, doakan, dan evaluasikan”. ini mungkin lebih elegan. Mengingat niatan kita belajar bukan sekedar hal sepele menghadapi hari H ujian saja. Tapi lebih mulia lagi untuk masa depan. Kalau saya lebih suka membahas ulang hal yang tak mampu saya kerjakan, karena saya akan tahu letak kesalahan saya itu dimana, dan harusnya seperti apa.

Ada orang yang mengatakan bahwa hasil ujian itu merupakan takdir, kalo dapet segitu ya sudah. Ada juga yang mengatakan bahwa hasil ujian adalah hasil kerja keras seberapa besar persiapan kita. Ok fine. Semua benar. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah hasil ujian adalah hasil perkalian pembagian atau bahkan kuadrat dari input-input yang kompleks sehingga mendapatkan hasil yang kita sebut sebagai nilai ujian. Umumnya dalam kampus kita diberi nilai mutu dengan A, B,C , D atau E. Wahyuni (2005) mengatakan bahwa hasil ujian berkorelasi dengan usaha keras sebelumnya. Usaha keras tersebut dalam artian saya bukan sekedar belajar materi saja. Tapi hal-hal lain yang mendukung terjadinya proses yang membuat kita mau belajar dan doa dari berbagai pihak.

Yang terakhir, sukuri nilai mu. Nilai adalah anugerah. Sekecil apapun itu, seburuk apapun, nilai adalah hasil dari banyak hal yang berkontribusi dalam pembentukannya. Bisa jadi 10 persen dari nilai tersebut terkandung doa kedua orang tuamu yang dimunajatkan di sepertiga malam, atau dari kerja keras pekerja di PLN sana sehingga kamu bisa menyalakan laptop yang membantumu membuka slide-slide dan materi kuliah, atau bahkan dari hasil senyuman temanmu kala di suatu hari yang membuatmu semangat belajar. So. Tetaplah menghargai apapun itu. Karena tidak sesederhana bahwa tiba-tiba nilai yang keluar itu wujud. Tapi banyak faktor yang memengaruhinya. Tetapi, kita diberi kesempatan untuk berusaha supaya anugerah itu membanggakan. So, mari berusaha untuk menghasilkan anugerah yang benar-benar indah dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Dapatkan A untuk ujian-ujian kita.

Jika kita menilai belajar sebagai ibadah, saya rasa hal diatas ini sudah bukan lagi bahasan menarik. Mengingat dalam hal mencari ilmu itu keikhlasan menjadi titik level yang paling tinggi. Semoga ujian-ujian kita sukses dan diberkahi oleh Allah SWT, serta menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin

Kontributor : Hasan Bisri
Editor : Tim Redaksi KMNU IPB

Dwi W.2005.Pengaruh kesiapan belajar, motivasi belajar dan pengulangan materi pelajaran terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi pada siswa kelas II MA Al Asror Gunung Pati tahun pelajaran 2004/2005 [skripsi].Semarang (ID):Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Godam.2011.Tips cara menghilangkan/ mengurangi rasa takut/ gugup/ minder saat ujian dan tes.internet.Tersedia pada : http://www.organisasi.org/1970/01/tips-cara-menghilangkan-mengurangi-rasa-takut-gugup-minder-saat-ujian-tes.html, diunduh pada [2015 April 01].
Rohmah Ainani.2008. Pengaruh perilaku ibadah terhadap hasil penilaian ranah psikomotorik PAI di SMP H Isriati Baiturrahman Semarang [skripsi].Semarang (ID): Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Wali Songo.

muhammad

Related Posts
Leave a reply