Peran Mahasiswa dalam Perekonomian Masyarakat

Peran Mahasiswa dalam Perekonomian Masyarakat

Kembali lagi dengan kami dalam sebuah diskusi yang dinanti-nanti oleh orang orang yang haus akan ilmu. Masih di tempat yang sama dan suasana yang hampir sama, pun dengan suara hujan dan hembusan angin yang ikut menyejukkan suasana diskusi kali ini. Sejuk hati dan sejuk pikiran, setelah kuliah terakhir di setiap minggunya, dan dengan beragam tugas serta laporan yang sudah melambai-lambai untuk dikerjakan.

Inilah kita, masih menyempatkan diri untuk berdiskusi santai membahas sesuatu yang menarik dan bermanfaat pastinya, untuk orang –orang dalam forum ini, pun untuk masyarakat, karena harapannya, sesuatu yang di dapat dalam forum ini tidak berhenti saja, namun tetap berkelanjutan dan terus berlanjut. Ok, kali ini, kita kedatangan tamu. Beliau adalah Kak Eko Prabowa, pengusaha sayuran, dan beliau alumni Biologi IPB. Kita akan berdiskusi tentang “ Peran Mahasiswa dalam Perekonomian Masyarakat”.
Diskusi di mulai dengan sebuah pertanyaan oleh Kak Eko, “ Coba kalian lihat kaca itu, ada apa di dalamnya?”. Kak Eko menunjuk setiap orang dalam diskusi kali ini untuk ikut menjawab apa yang ditanyakan. Hampir semuanya menjawab bahwa dalam kaca itu, ada debu, partikel, bakteri ataupun mikroorganisme yang tak terlihat. Mendengar jawaban itu, Ka Eko melemparkan lagi pertanyaan selanjutnya, yaitu “ Kenapa kalian bisa menjawab seperti itu, dari mana kalian tahu?. Sebuah pertanyaan sederhana, namun semua tidak dapat menjawab, atau menjawab terlalu tinggi, padahal sebenarnya, kunci dari itu semua adalah “ILMU”. Sesuatu yang tak pernah terpikiran.
Segala ilmu di dunia ini, adalah milik Allah. Allah lah yang telah mengatur segalanya. Manusia tidak akan pernah bisa membuat sebuah aturan. Kalau kita yakin bisa menjadi pembuat aturan, mungkin kita akan menjadi Partner Allah. Pernyataan konyol yang jawabanny sudah pasti “TIDAK !”. Segala sesuatu telah terikat oleh hukum Allah atau yang biasa disebut Sunatullah. Ka Eko juga menceritakan “ Kalian tahu, Allah pernah memerintah Nabi Sulaiman untuk memberi makan seluruh ikan yang ada dalam lautan, namun Nabi Sulaiman tak sanggup melakukannya, padahal kita tahu bahwa Nabi Sulaiman merupakan Nabi yang kekayaannya tak usah dipertanyakan lagi. Sama halnya dengan Nabi Musa, yang gagal mengikuti Nabi Khidir, karena ketidaksabarannya.
Sungguh begitu banyak Ilmu yang tersebar dalam hal apapun. Kita menjadi seorang manusia yang tumbuh dengan sebuah ilmu. Ilmu, ajaran, pendapat , itulah kita sekarang. Diri kita dipenuhi oleh berbagai ajaran, pendapat, dan ilmu. Lalu, tak jarang di antara kita yang merasa tinggi hati dengan ilmu yang kita dapatkan. Sebenarnya, apa yang di carai dalam sebuah pencarian ilmu itu?
Sejatinya, dengan ilmu yang sudah kita dapatkan, kita itu memastikan bahwa kita “BODOH”. Lalu, coba kita bayangkan, apa yang menjadi persamaan semua orang, baik mereka yang tingkat keilmuannya sudah tinggi pun dengan orang yang tidak punya ilmu, yah karena memang tidak punya akal, atau orang gila. Mereka tetap bisa hidup, karena kasih saying Allah. “Bagian kecil, dan yang sangat mendasar dalam diri setiap manusia tetap terjaga, yaitu makan. Siapa yang mengajari orang gila itu untuk makan? Semua itu hanya karena kekuasan-Nya saja. Ketika kau punya ilmu dan kau merasa bangga, maka kau akan dibenamkan. Kita harus berfikir terlebih dahulu kenapa kita melakukan suatu hal dan untuk apa?
Masuk pada bahasan yang sesungguhnya, yaitu tentang bisnis. Fenomena yang ada dalam mahasiswa adalah, banyak mereka yang mengikuti berbagai macam seminar bisnis namun masih belum juga mengeksekusi apa yang diinginkan. Mereka mandeg karena berbagai macam alasan, yang membuat bisnis terkesan sesuatu yang ribet. Terlalu difikirkan, sehingga tidak jalan-jalan. Pada umumnya, orang banyak yang tidak memulai bisnisnya karena mereka terus berfikir, berfikir dan berfikir sampai pada akhirnya takut untuk memulai karena banyak pertimbangan. Takut gagal, pemain baru, tidak punya modal, atau berbagai alasan lainnya yang membuat orang tidak memulai memulai untuk bisnis.
Konsep bisnis itu padahal sederhana, yaitu “Memberi tahu orang lain akan barang/jasa, kemudian meminta bayaran untuk itu. Tidak perlu modal yang banyak untuk berbisnis. Manfaatkan apa yang sudah anda punya, seperti medsos,teman kenalan. Istilahnya, ada yang mengatakan “Bisnis itu pake Dengkul “. Loh kok bisnis pake dengkul, bukan pake otak?. Maksudnya di sini adalah harus banyak aksi, karena kita akan bisa belajar dari pengalaman. Sejatinya, hamper semua orang di dunia ini mengalami kegagalan, apalagi dalam hal bisnis. Itu merupakan sesuatu yang wajar. Sering kali kita melihat orang ketika suksesnya, padahal dibalik kesuksesan mereka tak jarang mereka harus mengalami kegagalan/ bahkan sampai pada titik terendah, yaitu bangkrut. Namun, mereka terus mencoba dan mencoba untuk bangkit kembali hingga mereka bisa mencapai kesuksesannya.
Masih takut GAGAL? .
“Bukankah adanya manusia di dunia ini adalah suatu kegagalan ?” Jika kita mengingat bahwa adanya manusia di dunia ini merupakan suatu kegagalan yang dilakukan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa, yang gagal mematuhi perintah Allah. Jadi, dari asalnya pun sudah gagal. Gagal bukan alasan untuk pesimis, namun sebuah alasan untuk tetap optimis dan bersemangat dalam menjalani segala sesuatu. Sejatinya, gagal itu hanyalah sebuah proses menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa, dengan segala kemampuan yang ada, mulailah dengan melakukan sesuatu. Aksi nyata untuk mewujudkan impian menjadi seorang wirausaha. Lalu, yang paling penting adalah tujuan. Mulailah dengan tujuan yang mulia. Menjadi wirausaha, atau melakukan suatu bisnis atau dalam istilah agamanya adalah BERNIAGA, maka kita harus melihat segala aspek. Bukan hanya aspek ekonomi saja, namun yang terpenting adalah aspek sosial. Terapkan dalam hati, bahwa ketika kita membuat suatu usaha, sejatinya usaha yang kita lakukan adalah untuk memakmurkan orang-orang disekitar kita, bukan malah menjadi pesaing usaha-usaha masyarakat kecil. Bermitralah dengan masyarakat, bukan malah menjadi pesaing.
Kuncinya adalah, ILMU. Lalu, ilmu yang sudah diperoleh, dipraktikkan, jangan hanya sebatas teori yang berputar-putar dalam fikiran saja, namun jadikan sebuah aksi nyata yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan. Sembilan dari 10 pintu rezeki adalah dari berdagang. Tunggu apa lagi? Yuk Berdagang???

 

image : nasional.kontan.co.id

muhammad

Related Posts
Leave a reply