Industrialisasi

Industrialisasi

Assalamualaikum alam semesta. Seperti minggu sebelumnya, Nahdlatul Fikri hadir menemani suasana sore hari jum’at kami. Namun, kali ini suasananya sedikit berbeda, tersasa lebih indah, lebih fresh karena latar tempat diskusi kami ini berada di Taman Pasca Sarjana IPB. Kami duduk di sebuah Gazebo yang sejauh mata memandang, melihat hijaunya danau yang mendamaikan, taman-bunga yang berwarna warni , serta suara kicauan burung yang memperindah suasana sore ini.

Seperti biasanya, diskusi ini selalu dibuka dengan membaca doa serta sholawat agar diskusi ini tak hanya sekedar diskusi belaka, melainkan diskusi yang diharapkan dapat memberi manfaat untuk kedepannya.

Mba El, menjadi moderator di diskusi ini. Kami disodorkan dua buah bacaan, dan dari bacaan itulah bahasan diskusi kali ini. diskusi kali ini akan membahas sebuah tema yang sedikit lebih umum, yaitu “Industrialisasi”. Kenapa Industrialisasi?? Mba El mencoba menceritakan sebuah fenomena yang disadari atau tidak, ada disekitar kita, bahkan mungkin kita menjadi objek dari fenomena tersebut. “ Kalian sadar tidak, kalau sekarang ini, orang-orang sudah menjadi lebih matrealistis , individualis , dan mulai melupakan budaya-budaya leluhur kita . Coba deh, kalian lihat di kampong halaman kalian. Mungkin baru 1- 2 tahun kita menjadi anak rantau. Lihat saja, nanti ketika kalian pulang ke kampong halaman, kalian akan bertanya- tanya, kok jadi gini? pasti akan terasa jauh berbeda. Anak-anak kecil yang dulu kita kenal, menjadi remaja, yang remaja menjadi dewasa, dan yang dewasa menjadi tua. Seperti yang saya alami di daerah saya, untuk membuat sebuah kepanitian “Tujuhbelasan” saja, begitu susahnya mencari orang untuk dijadikan panitia. Kegiatan-kegiatan sosial seperti pengajian rutinan pun semakin berkurang jumlah orangnya, karena semakin banyak ibu-ibu yang bekerja di pabrik-pabrik dan pulang dengan kondisi yang sudah lelah. Mba El memaparkan bahwa kota kelahirannya, Gresik menjadi kota yang terkena dampak industrialisasi begitu kuat. Begitu menjamurnya industri-industri di Kota ini, mulai dari semen, pupuk, tambang, sampai sabun , semua pabriknya ada di sini. UMR di Gresikpun sama besarnya dengan UMR Surabaya. Sedangkan Surabaya merupakan kota dengan UMR terbesar kedua setelah Jakarta. Jadi, bisa dibayangkan Gresik sekarang seperti apa??”

Menurut Alvin Tofler (1970) ternyata di dunia ini orientasi atau reziim ekonomi berbeda-beda mengalami perubahan dalam beberapa fase. Awalnya bertumpu pada ekonomi pertanian dimana setiap negara masih sangat hijau tak ada pencemaran, serta masyarakatnya masih sangat guyup rukun. Setelah itu munculah ekonomi industry yang diawali revolusi industry di Eropa dengan ditemukannya mesin uap. Awalnya dunia ini tidak ada uap, dengan ditemukannya mesin uap itu mulai muncul polusi dan kebisingan. Nilai dari rezim ini adalah ekonomisasi, yaitu dengan memproduksi produk masal secara efisiensi, konglomerasi, semakin besar dan menggurita kemana-mana dan semakin kuat. Akibat industrialisasi ini mulai muncul 2 golongan, Sosialis dan Kapitalis. Munculnya dua golongan itu, lantas terjadi gap, orientasinya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. 90% orang Indonesia hanya menikmati 10% kesejahteraan, sedangkan 10% lainnya menguasai 90% kekayaan. Gini rasio atau rasio selisih pendapatan tinggi dan rendah di Indonesia masih tinggin sekitar 3. Negara dengan gini rasio tinggi ini sangat rawan dengan pergolakan. Sekarang ini sudah memasuki fase informasi di mana sekarang kamu tahu apapun yang terjadi dibelahan bumi manapun. Walaupun fasenya melewati ekonomi informasi, namun industrialisasi masih menjadi tolak ukur. Industri itu salah satu cara yang efektif untuk mencapai kemajuan, dimana setiap negara yang maju karena industry yang yang semakin maju di negara tersebut. Dengan Ekonomi informasi, orang-orangpun akan semakin jenuh, kalau kita hidup di dunia yang semakin kompetitif, materealistis. Misalnya ketika seorang ibu-ibu berangkat subuh sebelum anaknya bangun, dan pulang sampai malam menemui anaknya sudah tidur. Anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab orangtuanya, malah dititipkan kepada bibi. Orang –orang sangat diperbudak oleh waktu. Lalu, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia? Nah system ekonomi kreatiflah yang akan menjawab semua masalah ini, dimana manusia dikembalikan sesuai qodratnya, sebagai seorang yang memilik cipta, karya dan karsa, tidak menjadikan manusia sebagai alat.

Melihat fenomena industrialisasi yang terjadi di Indonesia, apakah semua daerah menjadi korban Industrialisasi ini? Ternyata tidak kawan!! Dari tulisannya Cak Nun yang kami baca, beliau menjelaskan dengan begitu apiknya, bahwa ternyata Madura, yang terkenal dengan tradisi “Carok” nya, yang orang lain menganggap sebagai sebuah kekerasan, dilihat dari sudut pandag yang berbeda, di luar dugaan kita. Manusia Madura tidak identik dengan “tukang carok” sebab tradisi carok itupada dasarnya merupakan sebuah ketegasan moral terhadap sejumlah prinsip nilai,yang pada masyarakat lain sering disikapi secara permisif. Madura di balik kekerasan sikapnya, sesungguhnya adalah sebagaimana hakikat universal semua manusia yang penuh kelembutan, menyukai keteduhan, dan kasih saying di antara sesama.

Para Ulama di Madura mencemaskan masyarakat dan umatnya akan menjadi bagaimana dalam decade industrialisasi ini. Karena sejauh yang dialami oleh umat manusia, industrialisasi akan gampang terpeleset dengan pengurangan harga manusia,keterpecahan kohesi sosial budaya,melemahnya moral lingkungan, sekularisasi dan individualisasi.

Pembangunan ini untuk manusia, bukan manusia memeras diri untuk pembangunan.Pembangunan itu memanusiakan manusia, bukan manusia dijadikan bahan bangunan. Industrialisasi itu milik rakyat, bukan rakyat diindustrialisasi. Sebuah pertanyaan klasik tentang pembangunan. “ Kalau dari kota ke dusunmu dibangun jalan aspal, apakah itu diperlukan untuk mengangkut kesejahteraan dari kota agar merata ke dusunmu, ataukah untuk menyerap kekayaan dusunmu untuk para penghuni kota?” Madura sangat patut dicontoh untuk daerah lain, betapa teguhnya pendirian mereka, bahkan dalam menghadapi investor yang datang ke tanah mereka, dengan tegasnya mereka menjawab “ Silakan bangun pabrik di tanah kami. Tapi jangan beli tanah ini. Sewa saja selama Bapak mau. Keemudian sudah sepatutnya kalau bapak mengutamakan putra-putri Madura di wilayah sini untuk menjadi pekerja Bapak. Dan , jangan lalai soal kesehatan lingkungan hidup di sini, sebab ongkos sosial budaya dan keagamaan yang kami tanggung dalam proses peradaban industry itu sendiri sudah pasti akan sangat mahal bagi kami orang dusun”. Begitulah cerita tentang keteguhan dan kesetiaan orang untuk menjaga lingkungan hidupnya, lingkungan sosialnya, serta lingkungan agama agar tidak tergilas oleh Industrialisasi, katrena bagi mereka Industrialisasi merupakan manifestasi dari peradaban matrealisme dan budaya me-materi-kan manusia. Tetaplah teguh menjadi Tapal Kuda , menjadi penentu stabilitas Nasional wahai Madura, karena sejatinya Indonesia membutuhkan Madura-madura lainnya.

muhammad

Related Posts
Comment ( 1 )
  1. yeyen
    February 13, 2015 at 3:52 pm
    Reply

    Bangga dan senang dgn karya adik2 kmnu. Terus berkarya namun jgn lupa dgn kearifan dan nilai2 pondok dan orng2 shaleh, supaya tdk lepas dari sambungan.

Leave a reply