Categories
Kajian Islam Uncategorized

Fathul Qorib-Bab Puasa (#KajianKMNU 1 Januari 2016)

Puasa (As-Shiyam/ As- Shaum), menurut bahasa berarti imsak (menahan).

Puasa menurut istilah adalah menahan dari sesuatu yang membatalkan secara khusus di siang hari disertai dengan niat tertentu.

Syarat wajib puasa ada 3:

  1. Islam
  2. Baligh dan Berakal
  3. Mampu melaksanakan puasa

*pendapat yang mengatakan syarat wajib puasa ada empat itu hanya memisahkan antara baligh dan berakal ke dalam dua syarat yang berbeda

Rukun puasa ada 4:

  1. Niat dengan hati (sempurnanya jika dilafalkan dan hukumnya sunnah)
  • Puasa wajib ( Rhamadhan, nadzar, dan kafarat), niat wajib dari malam harinya
  • Puasa sunnah niatnya boleh di siang hari (pahala mulai dihitung dari saat berniat)
  1. Menahan diri dari makan dan minum
  • Jika makan atau minum karena lupa maka tidak apa-apa asalkan sedikit
  • Tidak apa-apa makan dan minum jika ia belum mengetahui hukumnya
  1. Menahan diri dari jima’

Jika lupa tidak apa-apa asalkan hanya sedikit (tidak berulang), seperti halnya makan dan minum.

  1. Menahan dari menyengaja muntah

Kecuali muntah karena ada hajat, seperti keracunan yang harus dimuntahkan.

Hal-hal yang membatalkan puasa:

  1. Memasukkan sesuatu kedalam rongga pada kepala yang terbuka (mulut)
  2. Memasukkan sesuatu kedalam rongga pada kepala yang tertutup (hidung dan telinga)
  3. Menyemprotkan atau memasukkan sesuatu pada dua jalan (qubul dan dubur)
  4. Muntah yang disengaja
  5. Bersetubuh menggunakan kemaluan secara sengaja
  6. Sengaja mengeluarkan mani tanpa jimak (baik dengan cara haram yaitu dengan tangan sendiri ataupun dengan cara halal yaitu dengan tangan istri atau budak perempuan)
  7. Haidh
  8. Nifas
  9. Gila
  10. Murtad

Sunnah puasa:

  1. Menyegerakan berbuka, jangan pula tergesa-gesa, dan makan tamar/kurma
  2. Mengakhirkan sahur
  3. Meninggalkan kata-kata keji (menjaga lisan), seperti perkataan kasar, ghibah, dusta, fitnah, memaki, dll

Hari-hari diharamkannya puasa:

  1. 2 hari raya (Idhul Adha dan Idhul Fithri)
  2. Hari Tasyrik( 11,12,13 dari bulan Dzulhijjah)

Pada hari syak (tanggal tiga puluh dari bulan Sya’ban) dimakruhkan untuk berpuasa. Kecuali bagi orang yang telah terbiasa puasa sunnah (puasa daud, senin kamis, dsb).

 

TANYA JAWAB

  1. Mengenai syarat berakal, yang dikatakan berakal itu yang bagaimana?

Jawab:

Berakal itu lawannya gila, berakal itu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang selamat mana yang celaka.

 

  1. Ketika berpuasa kemudian makan karena lupa, tadi dalam pembahasan disebutkan bahwa itu tidak masalah jika makannya sedikit, kadar makan sedikit dan banyak itu seberapa?

Jawab :

Kadar sedikit atau banyak disini berdasarkan urf (kebiasaan setempat), misalkan satu sendok (mufrod) atau dua sendok (mutsanna) belum dikategorikan jamak, maka itu sedikit, tapi jka tiga sendok itu sudah masuk kategori jamak maka itu sudah banyak. Jika makannya banyak, puasanya batal tapi puasanya tetap harus diteruskan (pada puasa wajib) dikemudian hari ia wajib mengqodlo (untuk niat kehati-hatian),  pada puasa sunnah maka (menurut mazhab Imam Syafi’i) boleh  sekalian  untuk dibatalkan.

 

  1. Ketika sahur tiba-tiba terdengar adzan, tapi belum habis makanan/minumannya, itu bagaimana?

Jawab :

Batasan waktu sahur adalah ketika terbit fajar shodiq, yaitu telah masuk waktu sholat subuh. Hebatnya ulama nusantara, membuat waktu imsak sebagai kehati-hatian, karena kita tidak tahu secara pasti fajar shodiq itu datang pada waktu kapan. Bisa jadi lebih awal atau lebih lama dari waktu perhitungan yang ada. Untuk Indonesia menetapkan waktu imsak sepuluh menit sebelum waktu fajar shodiq yang berdasarkan perhitungan.

  1. Ketika puasa, memasukkan sesuatu kedalam telinga, semisal cotton bud, itu bagaimana?

Jawab:

Salah satu hal yang membatalkan puasa adalah memasukkan sesuatu kedalam rongga di kepala sebatas jari, yaitu jari yang paling kecil (kelingking). Sehingg akan batal puasa kita ketika kita menggunakan cotton bud untuk dimasukkan ke telinga. Tak masalah jika ia belum tahu, dan puasa sebelum-sebelumnya tetap sah, akan tetapi puasa batal jika ia sudah mengetahui hukumnya.

 

Kontributor: Tim Kajian KMNU IPB

Leave a Reply

Your email address will not be published.