Categories
Artikel KMNU IPB pendidikan

Aku, KMNU, Prestasiku sebagai Mahasantri di Kampus Pertanian

Anggota dari Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama IPB tidak berhenti untuk berprestasi, selain memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu bukan tidak mungkin untuk mengembangkan ilmu yang dipelajari dengan mengikuti sebuah ajang kompetisi. Memiliki sebuah prestasi adalah sebuah nilai tambah tersendiri ketika menjadi seorang mahasiswa. Seperti Iswatun Annas Mahasiswa dari departemen Geofisika dan Meteorologi angkatan 54, yang berhasil meraih Medali Perunggu Kebumian-Geografi OSM Th. 2020 dan juga Medali Perunggu Bidang Geografi Kompetensi Sains Indonesia (KSI) POSI Th. 2021.

Bidang geografi bukanlah bidang baru lagi untuk Annas karena saat SMA pernah mengikuti OSN Geografi ditingkat kabupaten dan alhamdulillah menang. Selain itu selama kuliah juga aktif mengajar untuk OSN pada sebuah lembaga bimbingan belajar dan menjadi pengajar untuk olimpiade Geografi untuk pelajar pada tingkat SMP/SMA dibeberapa kota di Indonesa bahkan pernah mengajar di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Nah, hal ini juga yang mendorongnya untuk mengikuti lomba OSN bidang Geografi-Kebumian ini, ketika mengetahui ada info lomba sebuah media sosial.

Aku, KMNU, Prestasiku sebagai Mahasantri di Kampus Pertanian

Keinginan untuk mengasah kembali bidang Geografi yang dipelajari dan apa yang pernah diajarkan untuk adek-adek bimbingannya membuat Annas yang pernah diamanahi sebagai ketua UKM Seni Religi 2019/2020 ini mantap untuk mengikuti OSM Kebumian-Geografi th. 2020. Menyempatkan waktu untuk mempelajari materi perlombaan disela-sela kuliah yang dijalani dan juga tugas akhir pada akhirnya berbuah manis, dengan jumlah peserta sekitar 1024 dari Universitas Negeri dan Universitas Swasta diseluruh Indonesia Alhamdulillah sebuah perunggu pun diperoleh.

Menurut Annas, “Sayang jika waktu selama kuliah hanya untuk hal akademik di kampus. Kuliah itu memang kewajiban tapi kita juga bisa memanfaatkan waktu untuk mengikuti lomba atau kompetisi yang bisa mengembangkan minat atau bakat kita, jadi selagi ada waktu terus mencoba dan mengasah kemampuan diri.”. Hal ini juga yang pada akhirnya menjadi motivasi mahasiswa asal Grobogan, Jawa Tengah ini untuk mengikuti perlombaan tersebut.

Mahasiswa yang bermotto hidup “Bersyukur adalah kunci kebahagiaan” ini, sekarang sedang menyelesaikan tugas akhir dan juga aktif mengikuti pengabdian di desanya. Yaitu mengadakan kegiatan cinta lingkungan dan sedang merintis sebuah objek wisata bersama pemuda desa setempat. Annas juga berpesan agar teman-teman KMNU lainnya bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan mengikuti perlombaan sesuai minat dan bakatnya masing-masing, menumbuhkan jiwa berkompetisi sehingga bisa meningkatkan prestasi baik individu maupun kelompok. Sehingga bisa mengangkat nama KMNU IPB dan menunjukkan jika anak KMNU IPB bukan hanya bidang dakwah saja, tapi juga memiliki prestasi pada bidang lainnya.

Categories
Artikel Nahdlatul Qolam

NAHDLATUL QOLAM (NQ) EDISI 65

NAHDLATUL QOLAM EDISI 65, KABINET BARU SEMANGAT BARU

 

Assalamuaaikum Wr. Wb

KMNU IPB – Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat yang diberikan kepada seluruh hamba-Nya dan shalawat serta salam semoga tetap senantiasa tercurah limpahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW. Pertama disini saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh civitas KMNU IPB yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengembangkan diri. Semoga dengan menjadi ketua terpilih pada periode 2020/2021, saya dapat berkontribusi lebih untuk KMNU IPB.

KMNU IPB adalah organisasi berlandaskan kekeluargaan Ala Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah nahdliyin dan nahdliyat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang melanjutkan pendidikan di kampus IPB University. Seiring dengan bertambahnya umur, anggota KMNU IPB juga semakin banyak. Menurut database KMNU IPB per tahun 2021, jumlah anggota aktif KMNU IPB ialah 410. Dengan jumlah sebanyak itu beserta cita-cita besar KMNU, maka berjuang di KMNU bukanlah suatu perkara yang mudah. Diperlukan kemampuan daya pikir yang kuat, manajemen emosional, interaksi sosial, dan komunikasi yang baik.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi masyarakat dunia ialah pandemic covid-19. Puluhan juta orang di seluruh dunia telah dinyatakan terpapar, dimana ratusan ribu kehilangan nyawa akibat pandemik. Dalam situasi seperti ini kita harus menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan secara berkala. Selain usaha lahir, diperlukan usaha bathin berupa dzikir, sholawat, dan mengaji. Ketiga hal tersebut sebagai upaya pendekatan kita ke Ilahi robbi sebagaimana sampe saat ini KMNU IPB Alhamdulillah secara istiqomah melaksanakannya setiap seminggu sekali.

Dengan besarnya tantangan yang dihadapi, maka KMNU IPB periode ini akan terus berusaha meneruskan visi periode sebelumnya yaitu “Menjadikan KMNU IPB sebagai pusat kajian spiritual keagamaan dan pusat kajian intelektual berlandaskan Ala Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah untuk menyongsong satu abad NU”. Untuk itu, KMNU IPB akan beradaptasi mengikuti situasi dan kondisi. Kepengurusan akan berfokus pada pengembangan SDM di sektor akademik dan non akademik berupa kegiatan daring serta luring menyesuaikan kebutuhan.

Sehubungan dengan pandemic pula, branding KMNU IPB sebagai pusat kajian juga ditingkatkan via instagram, facebook, twitter, whatsapp, website, dan youtube. Terkhusus untuk kegiatan luring, maka KMNU IPB akan memberikan perhatian lebih dengan mengadakan pelatihan atau kegiatan lainnya pada daerah yang masih dapat dijangkau. Jadi, bagi siapapun kami sangat terbuka jika ada yang berniat bergabung atau berkolaborasi dengan KMNU IPB. Jangan ragu untuk masuk dan bergabung dengan KMNU IPB, karena insyaallah di dalamnya ada ilmu serta keberkahan selalu.

Sekian, demikian yang dapat saya sampaikan, semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT beserta anugerah kesehatan-Nya. Jika ada salah kata saya mohon maaf sebesar-besarnya karena kebenaran hanya milik Allah SWT. Wabillahitaufiq wal hidayah.

 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

#AyoGabungKMNU

#AyoGabungKMNUIPB

 

Download NQ Edisi 65 :

ipb.link/nq65

 

Categories
Nahdlatul Qolam

NAHDLATUL QOLAM EDISI 50 (FREE DOWNLOAD PDF)

https://drive.google.com/file/d/1fy0ac2-5oiaezI-HqcwSwOd3Q5lKmPx9/view

Categories
Artikel KMNU IPB

Tanggung Jawab NU terhadap Pendidikan Indonesia

Pengabdian KMNU IPB
Foto kegiatan pengabdian Nahdlatul Atfal KMNU IPB

 

KMNU IPB– Dewasa ini, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan suatu organisasi masyarakat yang gerakannya mengarah kepada bidang keagamaan. Tujuan NU secara garis besar yaitu “Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dengan tujuan yang cenderung mengarah kepada dakwah, bukan berarti NU lepas tanggung jawab di bidang pendidikan.

Tepat satu dekade sebelum berdirinya NU, berdiri sebuah lembaga pendidikan agama yang bernama “Nahdlatul Wathan” ( kebangkitan bangsa) di Surabaya. Nahdlatul wathan digagas oleh KH. Wahab Hasbullah dan Kyai Mas Mansyur. Nahdlatul wathan bertujuan untuk memperluas dan meningkatkan mutu pendidikan yang dilaksanakan di sekolah atau madrasah.

Berawal dari organisasi inilah disebutkan bahwa cikal bakal Nahdlatul Ulama pada mulanya berasal dari suatu lembaga pendidikan. Sebab itulah, NU mempunyai tanggung jawab besar terhadap pendidikan di negeri ini. Dari awal berdirinya, NU sudah berusaha untuk menciptakan sekolah atau madrasah yang baik dimana merupakan program permanen Nahdlatul Ulama di samping Pondok Pesantren yang merupakan pendidikan non-formal.

Latar belakang itulah yang mendorong dan memotivasi seorang Muhammad Zakiyuddin Siroj (Zaky) untuk memajukan pendidikan anak-anak yang tinggal di sekitar kampus IPB. Kesadaran dan kepeduliannya tersebut tak lepas dari latar belakang dirinya sendiri yang merupakan seorang Nahdliyin sekaligus seorang mahasiswa IPB.

Oleh karena itu, ia merasa turut mengemban tanggung jawab seorang nahdliyin untuk memberikan pendidikan anak yatim dan anak-anak kurang mampu di sekitaran tempatnya tholabull ‘ilmi yaitu di IPB University. Semangat pengabdian Zaky pada awalnya bermula saat ia diajak oleh salah satu seniornya di KMNU IPB yang bernama mas Jose.

Mas jose merupakan mahasiswa IPB dan salah satu pengurus KMNU IPB di divisi eksternal KMNU 2018/2019. Pada mulanya Zaky belum ada ketertarikan untuk mengabdi di bidang pendidikan, namun setelah terjun dan merasakan langsung ia kemudian tertarik dan menyadari bahwa berbagi ilmu itu menyenangkan. Sampai sekarang, setidaknya sudah ada 3 tempat pengabdian yang dikelola oleh Zaky. Salah satunya adalah Nahdlatul Athfal ( NA).

Menurut Zaky, pengabdian adalah tanggung jawab moral yang harus tuntaskan. “Sebagai mahasiswa, kita mempunyai tugas dan kewajiban itu, jadi apa yang saya lakukan sekarang sudah sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi. Untuk waktu dekat, saya akan melakukan pengkaderan kepada adik tingkat IPB agar bisa meneruskan pengabdian ini, ya ada saatnya saya harus pensiun dan akan mewariskan ini sebagaimana mas Jose melakukannya tahun lalu” tambahnya.

Zaky berpesan “Ya, sebagai kader muda NU gak boleh tutup mata atas pendidikan yang ada di Indonesia, tidak peduli apapun profesinya, sebagai pemuda kita harus memperjuangkan pendidikan terutama bagi kalangan yang kurang mampu. Bagi para nahdliyin yang sedang menjadi mahasiswa di IPB, monggo bergabung dengan saya di KMNU karena kita punya tanggung jawab moral terhadap pendidikan yang ada di Indonesia”.

Categories
Artikel Opini pendidikan

Malu dan Takdim Terhadap Santri

Jujur ketika saya masih kecil, saya suka sekali dengan cerita cerita bernafaskan islami, mulai dari sejarah sejarahnya, hingga shirah nabawiyah, dan salah satu tokoh sahabat yang saya idolakan adalah Sayyidina Umar Ibn Khattab yang menurut saya beliau adalah salah satu santri dari Kanjeng Nabi. Bahkan saya ada kepikiran bagaimana agar Islam ini diterima seluruh manusia tanpa terkecuali, bukan main pemikiran saya waktu kecil, sangat muluk muluk dan sangat minim literasi, ya maklum namanya juga anak kecil, yang Alhamdulillah memiliki Ghirah yang sangat tinggi terhadap agama yang saya anut.

Saya waktu TK mengaji di pengajian yang berada di lingkungan Muhammadiyah yang masuknya hanya setiap sore jam 3 sore selesai jam 5. Mulai dari belajar alif, ba, ta, dst. Masuk SD saya bertemu dengan guru agama yang bisa dibilang NU kenthel, Pak B namanya, semakin saya senang dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sempat ketika itu saya pikirkan. Mengapa mata pelajarannya adalah “pendidikan” bukan pengajaran? Pertanyaan itu terjawab oleh beliau, tanpa saya tanyakan terlebih dahulu. Bahwa beda jauh antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan tidak sekadar mengajar di lebih dari itu,jauh makna harfiahnya dari pengajaran, pendidikan itu yang ngemong, ya bersopan, ya bersantun, ya bertata, ya berkrama, ya belajar, ya memahami, ya memaknai, dan sangat luas artinya. Pada intinya pengajaran/pelajaran adalah secuil arti (bukan makna) dari pendidikan. Dari uraian yang singkat dari Guru tersebut saya sangat tertarik dengan pesantren akhirnya.

Iya pesantren, saya punya cita cita besar untuk menjadi seorang santri, namun saya selalu tidak mampu menempuhnya saya rasa. Saya selalu segan menjadi santri. Dulu selepas SD saya sempat punya keinginan 50% masuk di pesantren dan menjadi santri. Ketika itu ayah saya (Allahumaghfirlah) menyarankan saya untuk masuk Gontor saja kalo pingin jadi santri. Tetapi harapan saya adalah di Lirboyo. Kenapa di Lirboyo? Ya jelas, karena guru SD saya nyantri di Lirboyo, saya sangat takjub dengan Lirboyo, tidak tanggung tanggung, bahkan saya mengidolakan tokoh tokohnya, seperti Kiai Agus Maksum Jauhari, Wali Pendekar dari Lirboyo.

Ya, saya sangat mengagumi pesantren, tetapi seperti terjadinya hari ini, saya bukanlah santri. Jadi, saya malu terhadap para santri santri. Saya selalu takdim pada para santri santri, karena jujur menjadi santri bagi saya adalah suatu tugas yang berat. Iya itu tadi, menjadi santri harus bersedia dididik, yang mana saya belum tentu bisa mengiyakan semua pendidikan di pesantren, walaupun saya tahu itu baik dan bagus. Seperti menghafal Alquran, muroti, bandongan, dsb itu sangat bagus. Tetapi saya merasa mungkin saya tidak sanggup melakoninya. Kemudian saya masuk SMP, suatu hal yang baru karena baru lulus dari SD, saya dididik oleh Bu Nurul, Guru Agama masa SMP, juga seperti Pak Bahrun, Bu Nurul adalah NU kenthel. Saya semakin takjub dengan pendidikan santri, padahal saya berada di lingkungan SMP, saya semakin malu dengan para santri, yang ya bisa dikata, SMP mulai tergerus akhlaknya, dan ini membuat saya seharusnya mawas diri. SMP memberi kenangan untuk menjadi siswa. Iya siswa yang sedikit mbalelo, karena itu adalah watak saya, yang tidak jarang mbalelo terhadap guru saya.

Selepas lulus SMP, ternyata teman teman saya ada yang meneruskan nyantri, bahkan adik kelas saya ada yang juga nyantri. Nyantri di Gontor tepatnya, saya tertegun dan malu. Masuk SMA, seperti biasa, yang saya sukai adalah pelajaran sejarah dan matematika, namun saya masuk MIPA, karena saya suka matematika, dan menurut saya, sejarah dapat dipelajari lebih secara otodidak dengan banyak membaca. Benar saya masuk MIPA, tetapi saya masih sangat doyan dengan sejarah, pelajaran sejarah bisa dibilang saya sangat menyukainya, hanya satu tahun saya tidak menyukai sejarah, lebih dikarenakan cara mengajar pengajarnya yang terlalu melihat tulisan daripada memahami tulisan, saya sangat membenci hal tersebut. Tetapi mau dikata apa? Pengajar lebih berkuasa daripada siswanya. Setelah itu saya mulai menikmati sejarah seperti  air kelapa yang masuk ke dalam kerongkongan, segar dan tanpa hambatan. Memahami sejarah begitu mudah dan menyenankan dengan Bu Sumilah sebagai gurunya. Mengalir dan mengalir.

Selepas SMA, saya kuliah di Peternakan, masih sangat suka dengan sejarah, hingga saya membeli buku Atlas Walisongo, tulisan dari Kiai Agus Sunyoto, yaitu Ketua LESBUMI NU. Dalam buku tersebut dijelaskan, siapa santri sebenarnya? Dari mana asal kata santri sebenarnya? Saya baca dan ternyata santri berasal dari kata sastri, sastri berasal dari sastra, jelas sudahlah bahwa santri bermakna pembelajar sastra. Ini merupakan pengertian yang tinggi, sastra tidak hanya mencakup tulisan-tulisan indah namun juga berisi makna yang mendalam. Suluk dalam budaya jawa merupakan sastra, tembang juga merupakan sastra, pantun juga merupakan sastra. Jadi, santri ini sangat sangat luas cakupannya, seperti yang saya tuliskan di paragraf pertama, tidak hanya belajar, tetapi juga bersantun, bersopan, dst. Semakin malu dan takdim terhadap santri. Saya dengan teman teman saya yang dari pesantren, saya selalu merasa takdim dan hormat. Tidak peduli itu adik tingkat saya waktu kuliah. Saya takdim terhadap para santri, terlebih lagi, memang pesantren selalu mengmbangkan santri santri yang kondang kapracondang, dan tak jarang memiliki aji yang linuwih. Seperti Gus Dur, Gus Mus, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Habib Luthfi, Cak Nun, dan Cak Nur. Di kontrakan saya juga adalah lulusan pesantren dan saya kalau orang barat simbol penghormatan adalah angkat topi, saya angkat blangkon dalam batin saya. Hingga sekarang, salah satu cita-cita saya masih sama, menjadi santri.

Tulisan oleh Gandawastraatmaja

Categories
Uncategorized

Tetap Hidup dengan Tumpang Pitu

 

Oleh Muhammad Afifuddin Abdurrosyid Kamil, awardee Muamalat Scholarship

Dibalik kemajuan ekonomi Kabupaten Banyuwangi selama 10 terakhir, ternyata masih menyimpan sebuah rahasia besar berupa perampasan kesejahteraan yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan tambang emas. Perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kepada perusahaan tambang emas atas eksploitasi Bukit Tumpang Pitu yang berstatus sebagai hutan lindung, membuat masyarakat semakin tidak berdaya dalam memperjuangkan haknya. Tindakan represif yang selalu dilakukan oleh aparat kepada masyarakat saat aksi damai berlangsung membuat saya yakin bahwa perusahaan dan pemerintah sedang bekerjasama untuk membabat habis kekayaan alam di Hutan Lindung Bukit Tumpang Pitu tanpa mempedulikan nasib masyarakat setempat.

Demo aksi penolakan dan pemasangan listrik di tambang emas Tumpang Pitu yang terjadi pada tahun 2017 merupakan puncak kemarahan dari masyarakat Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggrahan, Kabupaten Banyuwangi. Kemarahan masyarakat ini dipicu oleh kehadiran perusahaan tambang yang dianggap telah melakukan pengerusakan ekosistem alam di kawasan hutan lindung tersebut. Hutan dan pantai yang menjadi lahan utama mata pencaharian mereka sudah tidak bisa lagi diandalkan, limbah tambang yang dibuang sembarangan tanpa melakukan kajian  AMDAL yang benar membuat seluruh mata air, pantai, dan tanah yang ada di kawasan tersebut tercemar. Sebagian masyarakat desa terpaksa pindah ke daerah lain karena kebutuhan ekonomi mereka tidak lagi dapat terpenuhi dan sebagian lagi memutuskan untuk bertahan memperjuangkan hak mereka. Selama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi masih belum mencabut izin dari perusahaan tambang di kawasan Bukit Tumpang Pitu, selama itu pula konflik antara masyarakat dengan perusahaan tambang akan terus berlanjut. Sampai saat essai ini ditulis, perusahaan tambang masih melakukan aktivitasnya dan masyarakat masih terus bertahan memperjuangkan hak yang telah dirampas oleh perusahaan.

Sejak Tahun 2012, setidaknya terdapat 4.998 hektar dan 6.623 hektar kawasan Hutan Lindung Bukit Tumpang Pitu yang dikuasi oleh PT BSI dan PT DSI (Grup PT Merdeka Copper Gold, Tbk). Tidak kurang dari 75% luas kawasan Bukit Tumpang Pitu terancam menjadi sebuah lubang galian raksasa. Kehancuran Bukit Tumpang Pitu akibat alih fungsi lahan membuat masyarakat takut kehilangan “pagar alam” yang selama ini telah melindungai mereka dari ancanaman tsunami seperti yang terjadi pada tahun 1994. Aktivitas eksploitasi ini tidak hanya menjadi sumber masalah konflik sosial antara masyarakat dengan perusahaan tambang, namun sudah mulai merambat ke permasalahan ekonomi dan isu lingkungan.

Berbagai upaya telah dicoba untuk mendamaikan kedua belah pihak, tak kurang dari puluhan negosiasi telah disepakati dan sebanyak itu pula kesepakatan tersebut dikhianati. Pada akhirnya masyarakat sudah terlalu geram dengan upaya-upaya damai yang dilakukan, sehingga mereka sudah bulat memutuskan untuk melawan dan melanjutkan konflik sampai perusahaan bersedia angkat kaki dari Bukit Tumpang Pitu sebelum kawasan tersebut benar-benar hancur. Hanya ada dua pilihan bagi masyarakat, pertama mereka harus membuat perusahaan angkat kaki dari kampung halaman mereka atau mereka sendirilah yang harus meninggalkan kampung halamannya.

Sampai saat ini belum ada solusi untuk permasalahan Bukit Tumpang Pitu. Oleh karena itu, masyarakat desa kawasan Bukit Tumpang Pitu mengajak seluruh lapisan masayarakat Banyuwangi untuk mendukung mereka. Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan semakin banyak perusahaan besar lain yang datang ke daerah Kabupaten Banyuwangi untuk melakukan pengerusakan alam seperti di Bukit Tumpang Pitu. Saya, sebagai bagian dari masyarakat terdampak hanya berharap untuk tetap bisa hidup bersama Bukit Tumpang Pitu baik dengan bantuan pemerintah maupun tanpa bantuan pemerintah.

Categories
Artikel Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan

Kearifan Lokal dalam Dunia Pertanian :  Cara Efektif Mengindonesiakan Indonesia Kembali di Tengah Revolusi Industri 4.0

KMNU IPB- Perkembangan era globalisasi sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di zaman ini. Berbagai tata cara, pola hidup dan pandangan sosial turut serta mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Di tengah menggeliatnya perkembangan zaman itu, ternyata  masih terdapat masyarakat yang mempertahankan pola kehidupan dengan paradigma kearifan lokal. Biasanya masyarakat tersebut akan beranggapan bahwa, semua perkembangan baik itu bidang teknologi maupun tata cara dan pandangan hidup, tidak semua dapat diterapkan terutama di Indonesia. Ada beberapa yang harus disaring dan ditimbang terlebih dahulu untuk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan bermasayarakat.

Kearifan Lokal di Dunia Pertanian

Kearifan lokal merupakan refleksi norma dan nilai dalam masyarakat terhadap terhadap lingkungan yang diyakini sebagai oikos ( bahasa Yunani; keluarga atau rumah tangga ) yang harus dilestarikan. Kearifan lokal sebagai bentuk identitas yang melekat pada sebuah bangsa yang harus dilestarikan. Kearifan lokal menyimpan keluhuran dan keberadaban dalam sebuah bangsa dan memiliki makna yang diupenuhi falsafah kehidupan yang penuh makna dan dapat menciptakan keseimbangan dalam tata kehidupan.

Berbicara mengenai dunia pertanian, sektor inilah yang paling kompleks dan memberikan kontribusi besar bagi kehidupan suatu bangsa. Selain hal pangan, ada juga sisi lain yang turut serta yaitu,  sebagai pembentuk identitas suatu bangsa.

Kearifan lokal Pertanian Indonesia di  Era Revolusi Industri 4.0

Perkembangan teknologi digital zaman sekarang sangat mempengaruhi bidang pertanian. Sejak manusia masih mengandalkan tenaga manual  pertanian hingga kini teknologi digital dalam era revolusi 4.0, interaksi manusia dengan pertanian tidak pernah terputus sebagai sumber kehidupan. Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan di dalamnya telah ikut mengubah cara bertani dari masa ke masa, seiring dengan perubahan pola pandang manusia terhadap pertanian.

Di era semakin majunya teknologi  pertanian, masih ada masyarakat Indonesia yang mempertahankan pertanian dengan paradigma kearifan lokal ( local wisdom ). Pengetahuan dan kebudayaan lokal menjadi tahapan teknis pertanian yang masih dijalankan di beberapa daerah di Indonesia misalnya, di Sumatera Barat ada ritual yang disebut “Mambiak Padi”, Suku Dayak memiliki tradisi “Aruh Baharain” dan Suku Jawa ada tradisi sedekah bumi dan di Jawa Barat terdapat tradisi menghormati  padi pada masyarakat sunda “ Wawacan Sulanja”. Kearifan lokal berkembang sebagai sistem kepercayaan  yang berdampak pada konservasi lingkungan. Dampak yang ditimbulkan adalah harmonisasi rantai sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kearifan lokal menjadi simbol bahwa masyarakat menghargai dan merawat tradisi leluhur dan juga menjadi simbol bahwa petani menjaga budaya agraris pada suatu daerah. ( paktanidigital.com )

Dalam konteks Revolusi Industri 4.0 kedua variabel tersebut seharusnya saling melengkapi satu sama lain, saling mengakomodasi ide dan inovasi dalam rangka mewujudkan pertania yang berkelanjutan.Kearifan lokal pertanian mampu membentuk Local knowledge ( pengetahuan local )  yang dapat diambil pelajarannya secara filosofis dan pragmatis dan  teknologi pertanian muncul sebagai respon efektiffitas serta peningkatan produksi. Jikalau kedua hal tersebut dapat diterapkan dan diaplikasikan dengan baik maka sistem pertanian yang terpadu tanpa menghilangkan sisi ke – Indonesiaan yang menjunjung tinggi nilai keluhuran dan kelestarian lingkungan dapat terlaksa dengan baik.

Oleh Ricky Gusnia D ( Mahasiswa IPB University )

Pustaka :

https://paktanidigital.com/artikel/kearifan-lokal-pertanian-dalam-era-teknologi-digital/